Headlines News :
Home » » Oposisi adalah Kekuatan Alternatif Rakyat (1)

Oposisi adalah Kekuatan Alternatif Rakyat (1)

Written By ali-sahali on Kamis, 09 Februari 2012 | 2/09/2012


Semakin terpuruknya kondisi ekonomi, sosial-politik serta keadilan di Daerah, krisis multisektor yang tak terpulihkan sejak reformasi 1998 dan meretas di Indramayu pergantian Rezim Ope Musthopa tahun 1999 oleh, serta makin memudarnya peran Oposisi atau kontrol yang dilakukan Partai politik di Indramayu yang notabenenya adalah "Jembatan aspirasi rakyat", sehingga rakyat harus berinisiatif untuk mencari bahkan menciptakan jembatan aspirasinya untuk bisa sampai pada pembangunan bersama. Pembangunan gerakan sosial-politik berbasis massa-rakyat bagi kalangan aktivis, mahasiswa dan organisasi massa demokratik yang menurutku adalah kelompok pelopor di Indramayu siapapun itu dan dari manapun, menjadi analisa utama yang terungkap dalam rapat, diskusi dan refleksi yang sering dilakukan kawan-kawan gerakan rakyat di Indramayu.

Gerakan rakyat ataupun gerakan demokrasi di Indramayu dengan menarik diri dari politik akan sulit bagi gerakan untuk mencapai aspirasi perubahan sesuai yang dikehendaki masyarakat, karena pada prkateknya sampai hari ini di Indramayu politik menjadi panglima dan sangkakala bagi nasib jutaan rakyatnya. Menciptakan politik alternatif merupakan gagasan yang perlu kita diskusikan bersama, meski memanag membutuhkan kesiapan panjang dan pastinya berat untuk memasuki kontestansi politik pada semua level dan dalam bentuk apapapun. Pranata politik itu penting untuk dijaga dan aspirasi demokrasi jangan sampai menghancurkan pranata seperti itu. Kekalahan dari ke5 calon Kepala Daerah kemarin merupakan sebuah pelajaran berharga bahwa suara pemilih tidak bisa diabaikan begitu saja.

kalau kata Robertus Robet mantan pengabdi bantuan hukum YLBHI era 90-an dalam diskusi beberapa tahun lalu di sebuah acara, menunjukkan kemungkinan atau malah kenyataan ketika  demokrasi “telah membunuh politik” dan “menggantikannya dengan konsensus.”  Dengan kata lain, “politik” yang di-“bunuh” itu adalah politik sebagai proses perjuangan, bukan politik sebagai saling tukar kekuasaan dan pengaruh sebagaimana yang terjadi melalui pemilihan umum dan negosiasi legislatif dewasa ini di Indonesia.  “Politik” yang seperti itu sebenarnya hanya mengukuhkan tubuh sosial yang seakan-akan sepenuhnya direpresentasikan Parlemen. “Politik” yang seperti itu berilusi bahwa kita bisa mengabaikan Sang Antah.  “Politik” yang seperti itu adalah bagian yang bersembunyi dari apa yang disebut Rancière la police: struktur yang diam-diam mengatur  dan menegakkan tubuh itu sendiri. sehingga kita bisa uraikan perbedaannya dengan REZIM Indramayu hari ini apa?? yang terlihat Gambalang justru bukan yang memimpin sebenarnya..

Dari deskripsi diatas bisa menjadi bahan kita untuk bisa belajar bersama dari jatuh-bangun pembangunan gerakan rakyati di Indramayu dari masa kemasa, terutama pada Rezim Klientalis hari ini di Indramayu, sehingga sangat wajar dan relevan ketika banyak kalangan aktivis dan mahasiswa bahkan masyarakat awam mengatakan bahwa kondisi situasi sosial-politik Indramayu tidak berbeda dengan Indonesia pada REZIM ORBA dengan wujud kongkritnya Rezim Klientalis di Indramayu, yang sarat dengan fragmentasi kekuatan demokrasi, dan fenomena pembajakan demokrasi oleh elit, parpol dan borjuasi Daerah. Kebutuhan akan adanya satu kebutuhan kelompok Oposisi Rakyat adalah jawaban sekaligus tantangan konsolidasi serta pengorganisasian bagi rakyat dan kita bersama yang sudah sejak lama dibodohkan dan dimiskinkan oleh Rezim Klientalis sampai dengan detik ini.

Pembangunan Kekuatan Oposisi Rakyat Indramayu harus segera digagas dan terwujudkan, karena kondisi Indramayu hari ini, ketika kita analisa bersama dengan beberapa kalangan aktivis NGO, mahasiswa, nelayan, petani, buruh serta pemuda dari berbagai sisi, terutama sisi ekonomi rakyat yang cenderung dibiarkan, tanpa ada konsep pembangunan ekonomi rakyat yang jelas sehingga berujung pada penelantaran rakyatnya di negara orang, bahkan tidak sedikit yang meninggal menjadi TKI/TKW diberbagai negara tetangga. Begitu juga dari sisi politik yang entitasnya banyak kekautan politik, ternyata hampir semuanya merapat pada kekuasaan dan bersepakat untuk mengusung Klientalisme bertahta hingga kita tidak tahu sampai kapan, Tidak berbeda jauh pula dari sisi keadilan yang terkesan tidak ada Good will dalam penegakan hukum bahkan secara tidak langsung praktek itu semakin hari semakin bertambah parah, salah satu contoh kasus korupsi  selama kekuasan Rezim Klientali berkuasa hampir secara keseluruhan dan secara tidak langsung dilindungi, inddikatornya pendamping hukum terdakwa KADISDIK ada dari bagian hukum PEMDA.

Kapan lagi kita akan bisa meyelesaikan atau menguraikan benang kusut kerakusan ini, apalagi untuk bisa menyelesaikan krisis multisektor di Indramayu saat ini, harapan besar kita bersama adalah kondisi hari ini mampuh menggugah kesadaran ekonomi politik kita bersama dan analisis ini bisa menjadi salah satu pisau analisis untuk melakukan perumusan gerak perubahan serta konsolidasi dan sosialisasi yang lebih luas di semua elemen masyarakat Indramayu, dari sektor intelektual, sektor media massa, sektor publik secara meluas. Agenda Ekonomi-Politik adalah perekat bagi semua kepentingan strategis dalam pembangunan gerakan Oposisi Rakyat Indramayu menuju perubahan yang cukup mendasar terutama perubahan kepemimpinan yang demokratis.
Share this article :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
Support : Creating Website | Kabar Indramayu | BOR Indramayu | Free Download | Gerakan BOR Indramayu | BOR News | Paket Website Murah
Copyright © 2011. BOR Indramayu - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired www.cuplik.com
Proudly powered by Robert petualang